Pembentukan Kader "Teman Sebaya" (Peer-Counseling) Berbasis Emotional Intelligence untuk Mencegah Cyberbullying di SMPN 1 Wongsorejo
Keywords:
cyberbullying, Emotional Intelligence, konseling sebaya, peer-support, literasi digitalAbstract
Cyberbullying menjadi salah satu persoalan yang semakin relevan dalam interaksi sosial siswa sekolah menengah pertama seiring meningkatnya penggunaan media digital. Kondisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemahaman etika bermedia sosial, tetapi juga dengan kemampuan siswa mengelola emosi, berempati, dan memberikan dukungan kepada teman yang mengalami persoalan digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan membentuk kader “Teman Sebaya” berbasis Emotional Intelligence sebagai strategi preventif untuk meningkatkan pemahaman etika digital, empati, dan keterampilan dukungan awal terhadap cyberbullying di SMPN 1 Wongsorejo. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis aset melalui tahapan skrining kondisi awal, Training of Trainers (ToT), pembelajaran tiga modul, simulasi konseling mikro, role-play, aktivasi Posko “Teman Sebaya”, serta pendampingan dan supervisi Guru BK. Peserta utama berjumlah [25] siswa kelas VII dan VIII yang dipilih berdasarkan rekomendasi sekolah dan karakteristik empati, komunikasi, serta pengaruh sosial positif. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, angket kecerdasan emosional dan empati digital, rubrik praktik konseling, observasi, serta logbook kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik setelah intervensi, dengan capaian N-Gain masing-masing sebesar [0,72], [0,65], dan [0,75] [sesuaikan dengan data aktual]. Program juga menghasilkan mekanisme Posko “Teman Sebaya” dan sistem rujukan kepada Guru BK untuk kasus berisiko. Dengan demikian, model ini berpotensi memperkuat pencegahan cyberbullying sekaligus membangun iklim sekolah yang lebih aman, empatik, inklusif, dan ramah digital.





