Penerapan Model Green School Lab Berbasis Olah Sampah Mandiri untuk Meningkatkan Eko-Literasi Siswa Sekolah Dasar Pesisir.
Keywords:
Green School Lab, eko-literasi, pengelolaan sampah, sekolah dasar pesisir, ABCDAbstract
Pengelolaan sampah di kawasan pesisir tidak hanya menjadi persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan rendahnya kapasitas literasi lingkungan pada tingkat sekolah dasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan model Green School Lab berbasis olah sampah mandiri untuk meningkatkan eko-literasi siswa pada dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kegiatan dilaksanakan di SDN 5 Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, selama tiga bulan, Mei–Juli 2026, dengan melibatkan 40 siswa kelas IV–V dan 5 guru pendamping. Metode pelaksanaan mengintegrasikan pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan identifikasi kondisi awal, edukasi eko-literasi, praktik pemilahan sampah, komposting, pembuatan ekobrik, refleksi, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, kuesioner sikap, lembar observasi keterampilan, serta pengamatan tindak lanjut. Hasil menunjukkan peningkatan skor rata-rata eko-literasi dari 59,48 menjadi 86,48, dengan N-Gain sebesar 0,66 dalam kategori sedang. Peningkatan juga terlihat pada kemampuan siswa dalam memilah dan mengolah sampah serta berkembangnya kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekolah dan pesisir. Model Green School Lab memberikan pengalaman belajar konkret yang menghubungkan pengetahuan ekologis dengan tindakan nyata sekaligus mendorong keterlibatan guru dan siswa dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Program ini berpotensi dikembangkan sebagai praktik pendidikan lingkungan berkelanjutan pada sekolah dasar di kawasan pesisir.





